Selasa, 29 Maret 2011

when it hurts so bad...

Mungkin orang-orang yang deket sama hidupku udah eneg denger cerita masalah hatiku sekarang ini. Sebenernya sudah tidak berhak protes apapun karna disini yang kebanyakan masalah di diriku sendiri yaitu masalah tidak mampu memberikan yang terbaik walau sudah berusaha. Berusaha lebih keras untuk hal satu ini sekarangpun bukan hal yang dibutuhkan lagi untuk memperbaiki hal yang pernah guw milikin itu.

Kalo berpisah dinilai hal yang paling baik, mengapa sesakit ini Tuhan?
Tuhan... maaf terllau banyak mengeluh tentang masalah hidup yang sebenarnya tidak serumit masalah orang lain.
Tuhan mengapa kebahagian selalu hanya sebentar lalu berganti kepedihan yang tak kunjung hilang?
Tuhan berikan semua yang benar pada tempatnya sehingga aku bisa terbiasa kembali dengan perihnya cerita hati...
Tuhan tolong kendalikan semua masalah hati kepada waktu yang berhak secepat mungkin...
Tuhan kadang aku tak mampu untuk berdiri dan melihat bayanganku sendiri ketika sedih dan air mata ini jatuh tanpa ada yang merasa bahwa ialah penyebabnya...
Tuhan berikan aku cukup waktu untuk melihat langkahku untuk keesokan harinya dengan wajah penuh harapan kembali...
Tuhan maaf aku gagal... 
Tuhan tolong ajarkan aku sampai aku mampu mengangkat tatapanku kembali...


Selalu saja mengeluh dan bertanya mengapa kebahagian untuk suatu hubungan belum juga dimiliki. Selalu mencari celah kesalahan mana yang bisa diperbaiki supaya sakit ini terobati dengan segera, paling tidak bisa terbiasa seperti sebelum berkata "ia, kita berjalan dilangkah yang sama".
Kadang di satu titik sudah bisa menerima dan mulai nyaman, tapi mengapa ada saja satu hal yang bisa membuka koyakan hati sehingga kembali luka dan berdarah bahkan kembali bernanah?
Dan yang lebih menyakitkan adalah, ketika kita mengetahui bahwa hal itu sengaja dilakukan agar menyakitkan. Saat-saat logika tidak bisa berjalan dan hati selalu seenaknya menikmati kesakitan inilah disaat kita butuh teman untuk bercerita dan meminta pengakuan kalo kita tidak sendiri duduk di keterpurukan ini.
Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada pendengar semua keluhan saya: Noni, Shinta, Cece, Badar, Uya, Putra, Hendud, Plenthonx, Bayu dan semua oang yang selalu saya curhati ketika saya merasa perih dan sendiri menikmati semua kebodohan luka ini... 

Sebenarnya hal yang paling disesalkan disini bukan karna waktu yang terlalu singkat, lebih ke arah tidak bisa memilki komunikasi yang baik dan alasan yang  sebenarnya sedikit dipaksakan dengan apa yang diperjuangkan. Ketika dulu gak yakin dengan apa yang akan dijalankan, Dia adalah orang yang memberikan alasan dan kekuatan, tapi kok ujung-ujungnya Dia yang menyerah dan tidak yakin dengan apa yang Dia jalani dan putuskan. Sebenarnya tak apa melepaskan asalkan membantu memperbaiki luka hati dulu, tidak langsung pura-pura tidak memiliki perasan untuk memperbaiki perasan orang lain yang sudah dilukai bukan?
Sakit bahkan termat sakit, sangat sakit sampai kadang harus berbuat apa saja sudah tidak mengerti. Luka hati ini makin hari makin mebiasakan untuk tidak mengenal letih memperbaiki dan mengobati lukanya sampai akhirnya harus kembali terbuka dan tertutup dan kembali terbuka entah sampai kapan? Waktu yang punya jawaban itu... We'll see...

Berusaha memaafkan dengan keadaan seperti ini sangat sulit, apalagi berusaha untuk ikhlas sepenuhnya? teramat sulit...!!!
Adakah satu cara selain menunggu waktu agar semua kembali karna telah terbiasa disakiti, sudah biasa kehilangan dan sudah biasa karna memang keadaan yang membiasakan?

Tapi sekarang mulai terbuka suatu jawaban kemana dan harus bagaimana bersikap ketika Dia sudah memutuskan berjalan bersama orang lain, biarlah perih ini setia pada tempatnya menunggu waktu untuk diubah menjadi suatu kebahagian. Dia menujukkan bahwa yang Dia cari sudah ditemukan, yang artinya saya sudah sepenuhnya hilang dari kehidupannya. Dia siap merangkai kata, membuat janji indah serta menata cerita kasih yang semoga tidak terhenti seperti doaku yang selalu mengalir agar hidupnya selalu bahagia.  Oh... janji mengapa secepat itu dingkari sampai membuat perih hati tiada terhenti...

Semoga memang menemukan yang lebih baik dan bisa mendoakan dalam hal yang baik pula, Semoga tidak akan pernah merasakan bagaimana yang saya rasakan sekarang. Semoga semua yang tidak Dia temukan selama berjalan bersama bisa Dia temukan pada yang baru. Semoga saja semua memang berjalan sesuai dengan yang dikehendaki. Aku tetap mendoakan semua langkah yang benar memang ditunjukan oleh orang-orang yang tepat...

Disini saya menyimak, disini saya merasa perih dan tersakiti...
Tuhan... Waktu... 
Hanya itu yang bisa diharapkan bisa menemani dan menyudahi sakit ini...
itu terlau cepat,,, terlau singkat...
Tapi mengapa perih ini tidak secapat itu berlalu dan pergi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar